Sebuah Harapan

Translate to English Here

Semoga bermanfaat bagi semua orang

Terima kasih.



Salam Dari Penulis
Translate To English French Deutsch Spanish

Yamaha dan Honda Inginkan MotoGP Kembali ke Indonesia

Ditengah semakin gencarnya usaha Dorna Sport membuat MotoGP semakin mendunia dengan lebih banyak menggelarnya di luar Eropa, wacana untuk menggelar pentas MotoGP di Indonesia belakangan ini semakin gencar dibicarakan. Kabar terakhir, Indonesia adalah negara yang paling diinginkan oleh pabrikan Yamaha dan Honda untuk kembali menjadi tuan rumah Grand Prix.
Yamaha dan Honda merupan dua produsen motor yang meraup keuntungan besar di Indonesia. Itu sebabnya, tag-line berbahasa Indonesia nemplok di motor dan seragam balap team pabikan masing-masing. Di samping itu, animo masyarakat negeri ini terhadap balap motor paling bergengsi di dunia itu sangatlah besar. Valentino Rossi bahkan berani mengatakan kalau antusiasme MotoGP Mania di Indonesia jauh lebih besar dibandingkan Malaysia yang notabene sudah 20 tahun menjadi tuan rumah GP secara rutin.

Bahkan dibandingkan dengan USA yang kini sedang ditarget oleh Dorna, Indonesia dianggap masih lebih layak diprioritaskan. Amerika memang punya potensi pasar yang besar dibidang otomotif, namun MotoGP tak pernah benar-benar populer di negeri paman sam tersebut.

Lalu mengapa MotoGP tak kunjung bisa dibawa ke Indonesia? Ternyata masalah justru datang dari ketidaksiapan sirkuit Sentul sendiri. Sirkuit yang pernah menjadi tuan rumah GP pada tahun 1996-1997 itu perlu perbaikan agar bisa memenuhi kriteria sebagai penyelenggara MotoGP. Sedangkan Yamaha, yang kabarnya ikut mendanai pembangunan sirkuit Laguna Seca, belum bisa membantu untuk saat ini.

Adakah yang mau membantu….?
Baca Selengkapnya>>

Jepang “Tak Kenal” Indonesia: renungan Budaya 50 Tahun Indonesia-Jepang*

Kompas edisi cetak dan KOMPAS.com hari-hari terakhir ini diramaikan artikel tentang 50 tahun hubungan Indonesia-Jepang. Pelbagai aspek perkembangan dan strategi peningkatan hubungan bilateral kedua negara diulas, terutama dari bidang ekonomi, teknologi, dan sosial-politik. Sayangnya, ulasan dari sudut budaya belum terwakili. Tulisan ini setidaknya merupakan renungan introspektif demi peningkatan hubungan Indonesia-Jepang melalui bidang budaya.

Ironis membaca judul tulisan ini. Setidaknya itulah opini yang tercetus dari para mahasiswa Jepang yang tampil dalam sebuah lomba pidato berbahasa Indonesia di Jepang menyambut 50 tahun hubungan bilateral Indonesia-Jepang beberapa waktu yang lalu. Beberapa penampil menegaskan meski banyak wisatawan yang datang ke Indonesia, sesungguhnya sedikit saja warga Jepang yang mengenal Indonesia dalam rentang hubungan Indonesia dan Jepang yang panjang. Sungguh merupakan pernyataan yang menggelitik dari para intelektual muda Jepang yang sedang berjuang memperkenalkan Indonesia di mata warga Jepang.
Opini itu menggelitik mengingat selama ini selalu dikatakan bahwa Indonesia dan Jepang ibarat kakak dan adik, terlepas dari sejarah suram pendudukan Jepang di Indonesia pada 1942—1945. Tambahan pula, rata-rata tiap tahun Jepang tercatat sebagai negara “pemasok” wisatawan terbanyak di Asia, termasuk dalam sepuluh besar di dunia setiap tahun, dan Indonesia termasuk dalam tiga besar sasaran wisata warga Jepang di bawah Singapura dan Malaysia.
Namun, kemesraan hubungan Indonesia-Jepang hanya tampak menonjol di skala makro alias pemerintahan, namun tidak di skala mikro atau pribadi. Meski mudah dijumpai warga Indonesia yang tinggal di Jepang untuk belajar, berkarier, ataupun menetap, dalam skala hubungan antarwarga, orang Indonesia masih dianggap sebagai toumei ninggen, dalam bahasa Jepang, yang berarti orang yang tak dianggap.
Jika pun Indonesia ditampilkan secara nasional, hal yang lebih banyak diekspos dari Indonesia di Jepang dewasa ini adalah kemiskinan dan bencana alam. Dari sisi itu Indonesia, dalam pandangan warga Jepang, adalah negara yang pantas menerima perhatian dan bantuan terbesar di dunia dari Jepang. Tengoklah televisi Jepang yang boleh dinilai jarang menampilkan Indonesia. Kalaupun ada sesekali, berita ataupun feature yang disiarkan lebih banyak menampilkan sisi ketakberdayaan warga Indonesia dalam menghadapi musibah atau kemiskinan.

Kecemburuan pasti menyeruak saat menyaksikan NHK, TBS TV, Nippon TV, dan stasiun televisi lain di Jepang gencar mempromosikan objek wisata dan keunikan negara-negara jiran Indonesia, bahkan hingga penayangan pengajaran bahasanya. Sesuai dengan karakter orang Jepang yang suka melihat ke luar, media Jepang gemar mempromosikan keindahan dan keunikan negara lain di dunia. Namun, di mana Indonesia?

Peran Pusat Studi Indonesia
Tanpa mengecilkan peran warga Indonesia yang berkiprah di Jepang, tak dapat disangkal, peran memperkenalkan Indonesia kepada warga Jepang amat banyak dimainkan oleh pusat-pusat studi Indonesia di Jepang. Tercatat 26 institusi di Jepang, yang kebanyakan adalah universitas, menyelenggarakan program-program pengenalan Indonesia. Sebagian besar menawarkan perkuliahan tentang Indonesia dalam studi pilihan (minor study), namun ada yang membentuk program studi. Di luar itu beberapa pusat kursus (juku) juga mengadakan kursus bahasa Indonesia sebagai bahasa asing.

Beberapa pusat studi yang besar dan didukung oleh pemerintah memainkan peran yang menonjol dalam memperkenalkan Indonesia. Ambillah contoh Program Studi Indonesia Tokyo University of Foreign Studies (TUFS), sebuah universitas berbadan hukum milik negara yang terdepan dalam penyelenggaraan studi Indonesia di Jepang. Tiap tahun, dalam festival besar Gaigosai di kampus, mahasiswa dan pengajar program studi itu berjuang memperkenalkan Indonesia kepada warga Jepang dalam wujud pementasan karya budaya, seperti drama, tari, dan masakan Indonesia. Mereka pun tak segan mengadakan aksi sosial, bahkan turun ke jalan, untuk menggalang dana bantuan bagi para korban bencana alam di Indonesia, seperti saat tsunami Aceh 2004 dan gempa bumi Jawa Tengah 2006.

Peran pusat-pusat studi Indonesia di Jepang tidak berhenti sampai di situ. Telah lama pusat-pusat studi Indonesia itu mendirikan Nihon-Indonesia Gakkai atau Perhimpunan Pengkaji Indonesia Seluruh Jepang yang berkedudukan nasional di Jepang. Para anggota aktifnya adalah kalangan akademisi Jepang yang mengajar bahasa dan berbagai aspek Indonesia di universitas-universitas Jepang; sisanya akademisi Indonesia yang kebetulan sedang bertamu ke Jepang untuk mengajar. Sejak berdiri pada tahun 1969, setiap tahun Nihon-Indonesia Gakkai mengadakan seminar yang menyajikan pikiran atau hasil penelitian para anggotanya.

Namun, karena fungsi utama pusat studi Indonesia sebagai tempat belajar dan meneliti, pengenalan Indonesia masih terbatas dalam kelas-kelas di pusat-pusat studi Indonesia itu. Itu pun dengan berbagai kendala, terutama makin kurangnya minat generasi muda Jepang mengambil studi Indonesia saat ini.
Jika mahasiswa Jepang dewasa ini yang mengikuti studi Indonesia ditanyai mengapa mereka mau mempelajari Indonesia, banyak di antaranya menjawab tidak tahu atau karena gagal dalam ujian masuk ke program studi yang dianggap menawarkan prospek karier lebih baik. Mengikuti krisis Indonesia sejak 1998, yang andil menyebabkan turunnya minat mempelajari Indonesia, beberapa pusat studi Indonesia di Jepang terpaksa dihapuskan atau dilebur dengan pusat studi negeri-negeri jiran.


Perlunya Pusat Kebudayaan Indonesia di Jepang
Umumnya pusat-pusat studi Indonesia itu lebih banyak bergerak dalam lingkungan masing-masing. Padahal, besar minat mereka untuk bekerja sama dengan warga Indonesia di Jepang dalam memperkenalkan Indonesia di Jepang. Inilah yang agak disayangkan. Pada akhirnya aktivitas pusat studi terbatas pada kegiatan pengajaran, penelitian, dan seminar pada lingkungan yang terbatas.

Mengandalkan warga Indonesia yang tinggal di Jepang untuk memperkenalkan Indonesia tidaklah cukup. Di sinilah seyogianya Pemerintah Indonesia melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Jepang berhubungan aktif dengan pusat-pusat studi Indonesia di Jepang. Keluarannya adalah aneka kegiatan yang melibatkan semua pihak untuk memperkenalkan Indonesia lebih luas dan berkesinambungan.

Kegiatan yang paling efektif untuk meningkatkan pengenalan Indonesia kepada warga Jepang tidak lain adalah kegiatan budaya. Pusat Kebudayaan Indonesia, yang diselenggarakan di beberapa KBRI di dunia, dapat menjadi jembatan efektif yang menghubungkan Indonesia dengan pusat-pusat studi Indonesia setempat. Ambillah contoh Pusat Kebudayaan Indonesia di Australia dan Korea yang aktif mempromosikan Indonesia dan berhubungan dengan pusat-pusat studi setempat. Bentuk kegiatannya beragam, mulai dari kunjungan para tokoh Indonesia ke pusat-pusat studi Indonesia untuk promosi Indonesia, penyelenggaraan acara seni dan budaya bersama, hingga pengadaan perpustakaan lengkap Indonesia.
Pusat Kebudayaan Indonesia di negara asing tidak hanya berfungsi untuk mempromosikan kebudayaan Indonesia kepada warga setempat, tetapi juga untuk menjelaskan persoalan-persoalan yang menimpa Indonesia secara objektif kepada warga setempat. Di Jepang, isu negatif yang sekecil apa pun, terutama yang berhubungan dengan keamanan dan keselamatan, rentan dicemaskan secara nasional. Isu Garuda Indonesia yang tak layak terbang ke beberapa negara di dunia beberapa waktu yang lalu, misalnya, menggagalkan program-program kerja sama Indonesia-Jepang yang telah direncanakan. Banyak kunjungan yang seharusnya menghasilkan investasi bagi Indonesia batal, termasuk kunjungan sosial-budaya yang direncanakan oleh pusat-pusat studi Indonesia.

Aneka produk budaya Indonesia seyogianya dapat disebarluaskan melalui Pusat Kebudayaan Indonesia. Warga Jepang, terutama generasi mudanya, yang mudah mengalami “demam” produk budaya kontemporer dunia pasti akan menyambut baik kreasi produk budaya kontemporer Indonesia dalam wujud film, sinetron televisi, lagu, drama, tari, karya sastra terjemahan, dan makanan. Sementara “gaya Harajuku” dan manga cepat mendemamkan warga Indonesia, batik, musik pop, dan film sekelas Laskar Pelangi, misalnya, tidak akan sulit merebut hati warga Jepang untuk mengenal lebih dalam Indonesia.
Masih banyak pastinya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pengenalan Indonesia di mata warga Jepang dengan pendekatan kultural. Setidaknya, wakil Pemerintah dan warga Indonesia yang berada di Jepang mampu berbuat lebih banyak bagi negaranya. Demikian pula, warga Jepang yang mencintai Indonesia ingin berbuat lebih banyak demi pengenalan Indonesia di mata keluarga dan rekan-rekannya. Semoga 50 tahun hubungan bilateral Indonesia-Jepang ini tidak berhenti pada perayaan seremonial semata.


*Tulisan ini dipublikasikan di kolom “Oase” dalam Kompas.Com, www.kompas.com, 4 November 2008.
Baca Selengkapnya>>

Cerita Motivasi : Kisah Dari Sebatang Pensil

“Setiap orang pasti pernah membuat kesalahan. Itulah sebabnya, pada setiap pensil ada penghapusnya” (Pepatah Jepang)

Kali ini saya ingin menceritakan kepada Anda sebuah kisah penuh hikmah dari sebatang pensil. Dikisahkan, sebuah pensil akan segera dibungkus dan dijual ke pasar. Oleh pembuatnya, pensil itu dinasihati mengenai tugas yang akan diembannya. Maka, beberapa wejangan pun diberikan kepada si pensil. Inilah yang dikatakan oleh si pembuat pensil tersebut kepada pensilnya.

“Wahai pensil, tugasmu yang pertama dan utama adalah membantu orang sehingga memudahkan mereka menulis. Kamu boleh melakukan fungsi apa pun, tapi tugas utamamu adalah sebagai alat penulis. Kalau kamu gagal berfungsi sebagai alat tulis. Macet, rusak, maka tugas utamamu gagal.”

“Kedua, agar dirimu bisa berfungsi dengan sempurna, kamu akan mengalami proses penajaman. Memang meyakitkan, tapi itulah yang akan membuat dirimu menjadi berguna dan berfungsi optimal ”.

“Ketiga, yang penting bukanlah yang ada di luar dirimu. Yang penting, yang utama dan yang paling berguna adalah yang ada di dalam dirimu. Itulah yang membuat dirimu berharga dan berguna bagi manusia ”.

“Keempat, kamu tidak bisa berfungsi sendirian. Agar bisa berguna dan bermanfaat, maka kamu harus membiarkan dirimu bekerja sama dengan manusia yang menggunakanmu ” .

“Kelima. Di saat-saat terakhir, apa yang telah engkau hasilkan itulah yang menunjukkan seberapa hebatnya dirimu yang sesungguhnya. Bukanlah pensil utuh yang dianggap berhasil, melainkan pensil-pensil yang telah membantu menghasilkan karya terbaik, yang berfungsi hingga potongan terpendek. Itulah yang sebenarnya paling mencapai tujuanmu dibuat ”.

Sejak itulah, pensil-pensil itu pun masuk ke dalam kotaknya, dibungkus, dikemas, dan dijual ke pasar bagi para manusia yang membutuhkannya.

(author unknown)

~~~

Sahabatku, pensil-pensil ini pun mengingatkan kita mengenai tujuan dan misi kita berada di dunia ini. Saya pun percaya bahwa bukanlah tanpa sebab kita berada dan diciptakan ataupun dilahirkan di dunia ini. Yang jelas, ada sebuah purpose dalam diri kita yang perlu untuk digenapi dan diselesaikan.

Sama seperti pensil itu, begitu pulalah diri kita yang berada di dunia ini. Apa pun profesinya, saya yakin kesadaran kita mengenai tujuan dan panggilan hidup kita, akan membuat hidup kita menjadi semakin bermakna.
Baca Selengkapnya>>

Sejarah Pulau Komodo

Inilah kisah tentang naga. Bukan sekadar legenda, tetapi benar-benar seekor naga yang hingga kini masih mendiami Kepulauan Indonesia bagian timur dan tengah. Raksasa dari dunia reptil ini punya reputasi sebagai predator puncak di kelasnya.
Sejak dulu di Pulau Komodo, jajaran Kepulauan Flores, Indonesia, telah muncul kisah tentang naga raksasa. Banyak pelaut yang berkisah bahwa naga ini lebih mirip monster yang menakutkan.
Ekornya yang besar bisa merubuhkan seekor kerbau hanya dengan satu kibasan. Rahangnya besar dan kuat, hingga mampu menelan seekor babi hutan dalam satu gerakan. Dan dari mulutnya senantiasa menyemburkan api.

Kisah ini beredar luas dan sempat menarik perhatian banyak orang. Namun tak pernah ada yang berani mendekati pulau tersebut untuk membuktikannya. Sampai akhirnya pada 1910-an awal, muncul laporan dari gugus satuan tempur armada kapal Belanda yang bermarkas di Flores tentang makhluk misterius yang diduga “naga” mendiami sebuah pulau kecil di wilayah Kepulauan Sunda Lesser (sekarang jajaran Kepulauan Flores, Nusa Tenggara).

Para pelaut militer Belanda tersebut memberi laporan bahwa makhluk tersebut kemungkinan berukuran sampai tujuh meter panjangnya, dengan tubuh raksasa dan mulut yang senantiasa menyemburkan api. Letnan Steyn van Hensbroek, seorang pejabat Administrasi Kolonial Belanda di kawasan Flores mendengar laporan ini dan kisah-kisah yang melingkupi Pulau Komodo. Ia pun merencanakan perjalanan ke Pulau Komodo.

Setelah mempersenjatai diri dan membawa satu regu tentara terlatih, ia mendarat di pulau tersebut. Setelah beberapa hari di pulau itu, Hensbroek berhasil membunuh satu spesies aneh itu.

Ia membawanya ke markas dan dilakukan pengukuran panjang hasil buruannya itu dengan panjang kira-kira 2,1 meter. Bentuknya sangat mirip kadal. Satwa itu kemudian dipotret (didokumentasikan) oleh Peter A Ouwens, Direktur Zoological Museum and Botanical Gardens Bogor, Jawa. Inilah dokumentasi pertama tentang komodo.

Ouwens tertarik dengan temuan satwa aneh tersebut. Ia kemudian merekrut seorang pemburu lihai untuk menangkap spesimen untuknya. Sang pemburu berhasil membunuh dua ekor komodo yang berukuran 3,1 meter dan 3,35 meter, plus menangkap dua anakan, masing-masing berukuran di bawah satu meter.

Berdasarkan tangkapan sang pemburu ini, Ouwens melakukan penelitian dan menyimpulkan bahwa komodo bukanlah naga penyembur api, melainkan termasuk jenis kadal monitor (monitor lizard) di kelas reptilia.

Hasil penelitiannya ini kemudian dipublikasikan pada koran terbitan tahun 1912. Dalam pemberitaan itu, Ouwens memberi saran nama pada kadal raksasa itu Varanus komodoensis sebagai pengganti julukan Komodo Dragon (Naga Komodo).

Sadar arti penting komodo sebagai satwa langka, Pemerintah Belanda mengeluarkan peraturan proteksi terhadap komodo dan Pulau Komodo pada 1915. Jadilah kawasan itu sebagai wilayah konservasi komodo.

Temuan komodo sebagai legenda naga yang hidup, memancing rasa ingin tahu dunia internasional. Beberapa ekspedisi ilmiah dari berbagai negara secara bergilir melakukan penelitian di Pulau Komodo.
Baca Selengkapnya>>

Membuat Topeng Kertas

Seni kerajinan membuat topeng adalah hal biasa yang sering dilakukan oleh anak-anak di sekolah dasar. Beraneka macam jenis bahan yang dapat digunakan dalam membuat topeng, antara lain ; bubur kertas, kayu, gypsum atau bahkan fibergalss.

Pada bahasan kali ini akan diuraikan bagaimana cara membuat topeng dengan menggunakan bahan dasar koran bekas yang kemudian diolah menjadi bubur kertas. Caranya adalah sebagai berikut ;

1. Siapkan alat dan bahan antara lain ; plastisin, kertas koran, lem fox, karton ukuran 30x30cm, kuas cat lukis, ember plastik, blender.
2. Buatlah model karakter wajah yang diinginkan dengan menggunakan plastisin diatas karton, karton ini berfungsi sebagai tatakan plastisin agar fleksibel dalam proses pengerjaannya.
3. Setelah model terbentuk potonglah koran bekas menjadi bagian-bagian kecil dan kemudian rendam didalam ember plastik selama 20 - 30 menit.
4. Langkah selanjutnya adalah menghaluskan potongan-potongan koran bekas yang telah direndam tadi dengan menggunakan blender. Masukan sedikit demi sedikit potongan-potongan tersebut sambil sesekali dimasukan juga lem fox sebagai penguat topeng jika telah mengering nanti.
5. Setelah dirasakan cukup halus, siapkan model dan kuas cat lukis.
6. Lumuri model dengan menggunakan bubur kertas secara tipis-tipis menggunakan kuas cat lukis, kemudian tutup dengan tissue dan keringkan . Ulangi proses ini sampai ketebalan topeng dirasakan cukup.
7. Setelah ketebalan topeng dirasakan cukup tebal dan telah dikeringkan, maka topeng dari bubur kertas siap ditreatment , pakah mau dihias dengan ornamen atau ditambahkan aksesoris sebagai pemanis karya tersebut.
8. Proses kreativitas selesai, nah mudah bukan, selamat mencoba dirumah!

Jika menguasai bagaimana membuat topeng kertas menggunakan bubur kertas, cobalah bereksplorasi dengan menggunakan bahan-bahan lainnya yang ada di sekitar dengan memanfaatkan bahan-bahan yang bisa di daur ulang, selain menghasilkan karya juga turut menjaga lingkungan. Berikutnya akan dibahas bagaimana membuat kanvas.
Baca Selengkapnya>>

Pesan Blog Developer

Bagi para pengikut, di mohon untuk tidak menyertakan konten dewasa.