Sebuah Harapan

Translate to English Here

Semoga bermanfaat bagi semua orang

Terima kasih.



Salam Dari Penulis
Translate To English French Deutsch Spanish

Indonesia Vs Thailand, Ganti Komentatornya !

Gunawan Mohammad, kolumnis senior di majalah Tempo, suatu ketika pernah berkicau di akun twitternya bahwa di Indonesia mengomentari pertandingan sepakbola dianggap olahraga yang “menyehatkan”. Makanya diantara lebih 200 juta penduduk Indonesia banyak yang memilih jadi komentator ketimbang atlet. Dan komentator kadang merasa lebih hebat dari para pemain, bahkan pelatih di lapangan soal strategi juga hal lainnya. Oleh karena itu mereka selalu tampil sangat berapi-api.

Menyaksikan piala AFF, kita harus bersyukur Indonesia menang besar dua kali berturut-turut. Ada kebanggaan besar yang muncul disana. Bolehlah kini, kita tak malu lagi menyaksikan timnas Garuda berlaga. Kalau dulu selalu was-was dan bertanya, “Akan kalah berapa lagi Indonesia kali ini?”. Sekarang pertanyaannya berubah “Akan menang berapa gol lagi Indonesia kali ini?”
Kita pun kini punya idola baru, Irfan Bachdim yang imut-imut dan juga Christian Gonzales si tua-tua keladi. Mungkin sepakbola adalah kerjasama kolektif 11 pemain dilapangan, tapi sukar diingkari bahwa kehadiran dua orang pemain naturalisasi itu sungguh membuat perbedaan. Indonesia kini tampil lebih segar, bisa bertahan dan menyerang sama kuatnya. Juga kelihatan punya “Fighting Spirit”, bertarung hingga detik terakhir.
Terlepas dari permainan luar biasa timnas Garuda, ada satu hal yang sangat mengganggu saya setiap kali menyaksikan mereka di piala AFF ini. Komentar dari komentator. Tadi malam rasanya menggemaskan sekali menyaksikan pertandingan sambil diganggu oleh komentar-komentar negatif sepanjang laga. “Kita belum melihat tim yang solid”, “Hamka harusnya mengoper bola ke Ahmad Bustomi”, “Rotasi pemain Indonesia belum padu” dan lainnya.
Rasanya tak nyaman menyaksikan sepanjang pertandingan kita diajari seperti “penonton bodoh” dan tak punya otak. Wong kita juga melihatnya secara langsung kok di tivi. Ini bukan mendengar dari RRI loh pak komentator. Penonton kan berhak memberi penilaian sendiri. Tak bisakah satu orang saja yang mendeskripsikan jalannya pertandingan. Komentator bicara nanti saja kalau sesi jeda atau jika pertandingan usai. Sama seperti ketika kita menyaksikan piala dunia, atau liga-liga dunia yang lain.
Indonesia akan menghadapi Thailand di laga berikutnya. Kita tentunya optimis menang melihat perjalanan Thailand yang tidak terlalu bagus. Kerjanya cuma seri dan seri. Tapi Thailand tetaplah tim besar dan kuat. Mudah-mudahan pertandingan berikutnya Irfan Bachdim dan kawan-kawan bisa merobohkan tim “Gajah putih”. Dan tentu saja berharap komentatornya nanti tidak terlalu genit mengganggu konsentrasi penonton sepanjang laga dengan ocehan-ocehannya. Semoga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Gracias

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

Pesan Blog Developer

Bagi para pengikut, di mohon untuk tidak menyertakan konten dewasa.